Menu MBG Di Way Kanan Disorot, Mulai Dari Nilai Gizi, Distribusi, Hingga Anggaran

Penutur.info, Way Kanan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan beberapa Dapur menjadi sorotan publik. Pasalnya, menu yang dibagikan kepada penerima manfaat dinilai belum mencerminkan standar ketentuan yang berlaku, hal ini tampak dari foto menu anak sekolah beberapa hari ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satu dapur di wilayah dapil II Way Kanan, yaitu kecamatan bahuga menu yang dibagikan terdiri dari 1 butir telur rebus, 3 butir kurma, 1 roti dan 1 kotak susu Indomilk Kids dengan berbagai varian, ini memicu sejumlah pertanyaan dari masyarakat terkait nilai gizi, variasi produk, hingga mekanisme penyaluran program.

“kalo perkiraan saya bang, Roti kaya gitu biasanya di warung cuma seribu, Telor paling cuma 1.500, karena 1 karpet 54.000, sedangkan susu mungkin 2.500 an lah, kurma 3 biji ini yang lucu bisa dibilang ngegenapin aja.” ujar N sambil tertawa lebar.

N yang merupakan warga Bahuga sempat mempertanyakan terkait sistem penyaluran yang dilakukan secara rapel tersebut apakah memang sesuai aturan yang berlaku atau tidak. Tak hanya itu menurut ketentuan yang berlaku SPPG seharusnya juga melarang dapur MBG menerima dan membagikan susu kepada penerima manfaat dengan berbagai varian rasa seperti strawberry coklat dan vanila

Tidak hanya SPPG dapur MBG pun juga menjadi perhatian serius dimana ini memicu kecurangan-kecurangan yang mengarah kepada tindak pidana korupsi dimana banyak sekali temuan yang harus diperbaiki juga harus dipertanggung ini juga menjadi catatan penting bagi Satgas MBG Provinsi Lampung dan juga Aparat Penegak Hukum (APH) agar dapat menindak tegas.

Sejumlah pihak mendesak agar pelaksanaan MBG, khususnya di wilayah Kecamatan Bahuga dan wilayah lain di kabupaten Way Kanan dilakukan secara lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kualitas gizi, bukan sekedar menggugurkan kewajiban program. Evaluasi menyeluruh dianggap penting agar MBG benar-benar memberi manfaat nyata dan tidak mencederai kepercayaan publik.

Koraja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *